NHW9 #BUNDA sebagai AGEN PERUBAHAN





        Pada Nice HomeWork kali ini kita ditugaskan untuk melakukan perubahan kecil yang bisa kita lakukan, bermula dari perenungan yang dalam dan adanya rasa kekhawatiran saya pada kondisi masyarakat dewasa ini, berikut merupakan rencananya ke depan yang akan saya lakukan.
MINAT HOBI KETERTARIKAN
SKILL, HARD, SOFT
ISU SOSIAL
MASYARAKAT
IDE SOSIAL
Mengajar
Mengajar
Komunikasi
Kreativitas

Banyaknya anak-anak yang lebih senang bermain game daripada mengaji

Anak-anak


Gerakan Tiada Hari Tanpa Al Qur’an
Mengajar
Mengajar
Komunikasi

Banyaknya Ibu yang belum sadar pentingnya ASI dan bahayanya susu formula
Ibu Menyusui
Ibu Hamil
Gerakan ASI 2 tahun



Sebenarnya pada tugas NHW 9 ini kami ditugaskan untuk memikirkan  satu perubahan yang bisa kita lakukan berdasarkan permasalahan yang ada di sekitar. Namun pada NWH kali ini saya tuliskan dua yang menurut saya penting.
Saya sangat sedih pada zaman sekarang ini anak-anak seusia SD lebih senang bermain game daripada berangkat mengaji ditambah kurangnya dukungan orangtua agar anak-anak mereka bisa membaca Al-Qur’an. Saya sangat rindu suasana dimana anak-anak dengan semangat mengaji di masjid maupun mushola.
Kedepannya saya berharap dapat mengembalikan semangat anak-anak mengaji dengan mengajar TPA dan diselingi kegiatan menarik seperti cerita nabi maupun dongeng hikmah dan menyanyi agar anak-anak senang mengaji. Untuk saat ini saya dan keluarga menerapkan program gerakan  tiada hari tanpa Al-Qur’an, yaitu pembiasaan membaca Al-Qur’an setiap hari sehabis sholat.
Demikian NHW ini saya buat, semoga apa yang saya tulis dapat menjadi kenyataan dan bermanfaat untuk sekitar. Mohon maaf apabila terdapat kesalahan penulisan kata. 

NHW6 #Belajar Menjadi Manajer Keluarga yang Handal

Materi pekan keenam ini sangat menohok saya, pasalnya setelah mengalami post power syndrom istilahnya setelah selama ini saya disibukkan dengan pekerjaan namun sekarang saya benar-benar menjadi ibu rumah tangga yang sehari-hari saya habiskan waktu di rumah. Saya merasakan sekali jika waktu waktu saya habiskan kadang dengan percuma bahkan cenderung kurang produktif berbeda sekali dengan waktu bekerja maupun kuliah dulu yang penuh dengan jadwal kegiatan. Maka dari itu pentingnya membuat to do list kegiatan setiap hari, ini sangat cocok buat saya karena membuat kegiatan dalam sehari-hari menjadi lebih bermanfaat. Bismillah semoga apa yang saya ikhtiarkan ini akan berbuah manis walaupun pada kenyataannya dibutuhkan semangat konsisten yang tinggi untuk melaksanakan program ini.
                Masih hangat dalam ingatan ketika Teh Lulhfia memberikan video mengenai jar of life. Bagi saya video tersebut sangat menohok sekali. Kenapa kita sama-sama diberikan waktu 24 jam tapi hasil yang kita capai berbeda-beda setiap orang. Kuncinya adalah waktu, apakah waktu yang kita gunakan sehari-hari untuk hal-hal yang penting (keluarga, menuntut ilmu) ataukah malah sebagaian besar waktu kita seharian habis untuk hal-hal yang sangat tidak penting (main game, gadget, nonton TV).  Nanti untuk lebih jelasnya bisa melihat di youtube ya gaes. Kata Hasan Al Banna kewajiban kita lebih banyak daripada waktu yang tersedia maka dari itu kita perlu menyusun prioritas yang akan kita kerjakan, jika tidak waktu kita tidaklah cukup melakukan itu semua.
#Nice homework 6
Tiga Aktivitas yang menurut saya paling  penting
      1.       Membersihkan rumah
      2.       Memasak makanan yang bergizi
      3.       Belajar-Mengajar
Tiga aktivitas yang paling tidak penting
     1.       Instagram
     2.       Facebook
     3.       Chat WA
*ketiga aktivitas tidak penting ini saya habiskan di depan gadget. maka dari itu perlunya saya melakukan gadget time. Memang benar jika kita tidak disibukkan dengan kebaikan pastilah kita akan disibukkan dalam keburukan. Na’udzubillah. Sekarang kita tinggal memilih saja mau disibukkan dalam kebaikan atau keburukan?

Jadwal harian  saya
Saya menempatkan untuk kegiatan rutin termasuk kegiatan domestik pada jam sehabis subuh hingga pukul 07.00
06.00-08.00         : Melakukan pekerjaan domestik (termasuk memasak, membersihkan rumah dan mandi)
08.00-11.00       : Waktu dimanis (membaca buku parenting, manajemen waktu, sholat dhuha, tilawah Qur’an)
11.00-12.00         : tidur siang
12.00-13.00         : Sholat dhuhur dan makan siang
13.00-15.30         : mengajar TPA
15.30-16.00         : Sholat Ashar dan mandi sore
16.00-17.30         : memasak sore
18.00-18.30         : sholat maghrib
18.30-19.00         : makan malam bersama
19.00-19.30         : sholat isya’ dan tilawah bersama
19.30-21.00         : me time (membaca buku, menulis )
Jadwal yang saya buat ini akan saya akan terapkan selama seminggu dan jika berhasil dengan baik bisa dilanjutkan selama tiga bulan.
Semoga hari-hari semakin produktif lagi, semangat perbaikan.

                

NHW4 #My Self Curriculum


Alhamdulillah sudah memasuki pekan keempat Matrikulasi Institut Ibu Profesional. Jujur,  banyak sekali ilmu yang saya peroleh baik dari materi dan diskusi dari peserta matrikulasi walaupun saya kebanyak hanya menjadi silent reader. Semakin lama tugas nicehomework semakin membutuhkan perenungan yang dalam, bukan apa-apa tetapi setiap nicehomework berkaitan langsung dengan kehidupan kita termasuk tugas keempat ini yang berkaitan dengan pembuatan self curriculum.
Masih mengenai passion, dalam bahasa indonesia berarti gairah dalam kamus besar bahasa Indonesia gairah adalah keinginan (hasrat, keberanian) yang kuat. Passion ini sesuatu yang membuat mata kita berbinar-binar jika kita mengerjakannya, sampai lupa waktu. Bicara mengenai passion ini sebenarnya sejak akhir kuliah saya sudah bertanya-tanya apakah sebenarnya passion saya? Apalah daya sampai saat ini saya masih berusaha membaca kehendak Allah terhadap diri saya.
Setelah melakukan perenungan yang cukup lama, dengan melihat potensi diri saya kemudian saya diskusikan dengan Pak Suami. Ternyata pada Nicehomework yang pertama saya ingin menekuni jurusan Ibu Profesional menurut saya masih kurang spesifik. Sehingga pada tugas kali ini saya akan lebih menspesifikkan lagi jurusan yang saya ambil yaitu Pendidikan Ibu dan Anak. Saya teringat ketika saya menjadi guru setelah lulus kuliah, sama sekali tidak nyambung dengan jurusan yang saya ambil ketika kuliah namun satu tujuan saya waktu itu adalah mencari pengalaman untuk mendidik anak dengan baik. Dan Alhamdulillah banyak mendapat ilmu ketika mengajar Sekolah dasar.

My Self Curriculum

    v  Jurusan                : Pendidikan Ibu dan Anak
    v  Misi Hidup           : Berbagi ilmu dengan orang lain
    v  Bidang                  : Ilmu pendidikan ibu dan anak
    v  Peran                    : Educator, Inspirator
Tahapan-tahapan yang harus saya tempuh adalah sebagai berikut
          1.       Bunda Cekatan                 : ilmu seputar manajemen diri dan rumah tangga.
          2.       Bunda Sayang                    : ilmu seputar pengasuhan anak.
          3.       Bunda Produktif               : ilmu seputar minat dan bakat, kemandirian finansial dan lain-lain.
          4.       Bunda Sholeha                  : ilmu tentang berbagi manfaat kepada banyak orang.
Nb. Bunda cekatan dan bunda sayang saya tukar posisinya karena saya masih on the proses baby nya sehingga saya fokus pada bunda cekatan terlebih dahulu.

Milestone
Untuk menjadi expert dalam suatu bidang kita harus meluangkan 10.000 jam untuk mendalami ilmu tersebut. InsyaaAllah ke depannya saya akan meluangkan waktu saya 5 jam perhari untuk membaca, praktek dan menuliskannya sehingga dibutuhkan waktu selama 8 tahun 4 bulan.
KM 0 - KM 2  ( Nov 16 – Nov 18 )                : Bunda Cekatan & Bunda Sayang
KM 2 - KM 4  ( Nov 18 – Nov 20 )                : Bunda Sayang & Bunda Cekatan
KM 4 - KM 6  ( Nov 20 – Nov 22 )                : Bunda Produktif
KM 6 - KM 8  ( Nov 22  -  Nov 24 )               : Bunda Sholeha
                               
The Last JUST DO IT, lakukan saya jika belum paham, karena Allah lah yang akan memahamkan lewat laku kehidupan kita. (Tim Matrikulasi IIP)

Dipojok kamar dengan dtemani rintik rintik hujan, dan segelas susu full cream. Happy weekend J
Bandung, 13 November 2016
Nice Homework 4

Matrikulasi Institut Ibu Profesional

NHW3 #Membangun Peradaban Dari Dalam Rumah


Nah, ternyata kita sudah memasuki pekan ketiga Matrikulasi IIP, menurut saya tugas kali lumayan sulit, ditambah dengan ujian Bahasa Arab sehingga belum sempat mengerjakan tugas NHW3 ini. Ditambah lagi sering mabok setiap hari membuat semakin rumit. Perlu manajemen waktu yang lebih baik lagi. Ups, maaf sedikit curcol ya.
Well, seperti biasanya sebelum NHW3 disampaiakan pengantar materi pekan ini. Materi yang luar biasa. Pertama kita cek dulu benih benih kekecewaan pada orangtua kita mungkin saja menginggalkan rasa marah di dalam jiwa ketika dulu mengasuh kita sewaktu kecil. Dulu pertanyaan pertanyaan ini sering muncul dalam diri. Kenapa saya dilahirkan dari pasangan Bapak dan Ibu kenapa tidak yang lain? Kenapa sih Bapak seperti itu? Kenapa sih Ibu melakukan hal tersebut? Sering itu berngiang ngiang dikepalaku sejak SMA dan sempat muncul kemarahan dengan orangtua. Mungkin pas zaman masih labil kali ya sehingga hati dan jiwa masih bergejolak. Namun setelah menempuh kuliah di Jogja yang otomatis jauh dari orangtua perlahan lahan pertanyaan pertanyaan tersebut menemukan jalan terang. Setelah belajar islam lebih dalam banyak mendekatkan diri pada Ilahi. Rasa kemarahan itu sudah hilang insyaaAllah malah sekarang saya jauh lebih sayang kepada kedua orangtua saya. Dan bersyukur memunyai orangtua seperti mereka. Ternyata sekarang saya menyadari bahwa Bapak adalah Bapak terbaik sedunia dan Ibu adalah Ibu terbaik sedunia. Melalui merekalah saya hadir di dunia ini. Kalau kita sudah selesai dengan masalah sama orang tua, kita bisa mendidik anak dengan baik kelak.
Orang yang belum selesai dengan masa lalunya, akan menyisakan banyak luka ketika mendidik anaknya kelak. –Tim IIP

   "Jatuh cintalah kembali kepada suami anda, buatlah surat cinta yang menjadikan anda memiliki “alasan kuat” bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak anda. Berikan kepadanya dan lihatlah respon dari suami."

Sebenarnya kalau nulis surat ini keduanya kalinya dulu waktu pertama nulis surat cinta untuk beliau sehabis lebaran dan pindahan ke Bandung. Respon suami, saya paksa tulis surat cinta balasan. Wow ternyata tak kalah romantis jawabannya. Hehe.
 Tapi kali ini lain, harus menunggu momen yang pas buat memberikannya karena ada beberapa hal. Surat cinta sudah selesai dibuat kebanyakan sih ucapan maaf karena sering membuat suami mengelus dada dan mengingatkan kembali visi keluarga yang pernah dibahas sebelum nikah. Surat sudah ditulis dan saya selipkan dilaci tempat beliau meletakan dompet. Respon suami setelah membaca surat tersebut suami saya seperti biasa tidak mengungkapkan melalui kata-kata, memang tipe suami saya seperti itu. Beliau hanya memberikan isyarat senyuman, pelukan dan sebuah kecupan mesra di kening. Senyuman yang memberi isyarat bahwa beliau akan bertanggungjawab penuh dengan amanah yang akan diembannya.

" Lihatlah anak-anak anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing."

Saat ini kami belum memiliki anak, insyaaAllah tahun depan Allah memberikan kepercayaan kepada kami untuk memiliknya. Saat ini saya tengah mengandung 9 minggu, semoga lancar hingga persalinan kelak. Aamiin.

     "Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. Kemudian tengok kembali anak dan suami silakan baca kehendak Allah, mengapa anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal potensi yang anda miliki."

Tentang potensi diri, sebenarnya sejak lama saya mencari-cari apa gerangan potensi yang ada di dalam diri saya. Apakah misi spesifik hidup saya? Passion apa yang saya miliki. Berbicara mengenai passion ternyata banyak sekali yang menjadi minat saya mulai dari kerajinan tangan hingga anak-anak. Kemudian saya menanyakan kepada suami saya apakah potensi diri yang saya miliki. Hmm.... Okelah, saya punya kecintaan terhadap anak-anak. Hal inilah yang mengantarkan saya untuk menjadi salah satu guru di salah satu sekolah islam terpadu. Niat awal saya sih memang murni karena saya cinta terhadap anak-anak dan membekali diri dengan ilmu pendidikan anak dengan praktik langsung. Kata suami saya, inilah potensi besar yang saya miliki. Alhamdulillah sekarang juga aktif mengajar TPA anak-anak. Kalau mengajar anak-anak itu membuat saya bahagia. Beberapa waktu yang lalu saya juga mencoba talent maping, dan hasilnya saya memang tipe orang yang Care, Cominitation, Server. Saya memang paling suka dengan kegiatan-kegiatan sosial bahkan ibu saya sering ngomel karena biasanya yang kegiatann sosial ini tidak ada bayarannya, namun saya menemukan kepuasan tersendiri bisa menolong dan membantu. Saya juga paling suka mendengarkan orang bercerita maupun mengobrol dengan orang lain. Mungkin ke depannya saya bisa aktif di salah satu organisasi sosial.
Sifat saya dan suami saya sebenarnya jika ditelaah lebih dalam adalah saling melengkapi. Pola didikan orangtua pun teryata jauh berbeda. Keluarga suami lebih menanamkan kedisiplinan kalau keluarga saya lebih menanamkan komunikasi yang hangat dan terbuka. Mungkin memang didikan orangtua memang seperti itu berbeda dengan suami, saya orang yang santai banget suami itu kadang panikan dan teliti sampai detail. Kalau saya mah, beli ya beli saya tapi kalau suami sampai di cek detailnya. OOO...mungkin ini maksud Allah membuat kita berjodoh, agar saling melengkapi. Agar nantinya ketika mendidik anak jadi perpaduan yang baik.
Ingat lagi ya, bahwa Allah mempertemukan kita dengan suami bukanlah tanpa alasan, temukan rahasia Allah tersebut menjadi misi spesifik keluarga kita.

"Lihatlah lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda? Adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga anda dihadirkan disini"

Alhamdulillah di Bandung, saya dan suami tinggal di daerah perkotaan, dengan lingkungan yang kondusif dekat dengan masjid dan memiliki ibu kontrakan dan tetangga yang baik. Sebenarnya saat pertama kali datang ke Bandung muncul pikiran “kegiatan positif apa yang bisa saya lakukan di sini”. Masih terus observasi sampai saat ini, disini sebenarnya banyak anak-anak kecil dan ibu-ibu muda yang sebenarnya saya bisa berbagi ilmu dengan mereka terkait masalah edukasi ASI dl. Tapi karena masih tergolong penduduk baru sehingga sampai saat ini masih terus beradabtasi.


Bandung, 7 November 2016 

NHW2 #Menjadi Ibu Kebanggaan Keluarga



Selepas kata akad, kita akan menanggalkan status lajang untuk kemudian berganti status menjadi Istri. Akan ada tambahan peran yang akan melekat pada kita. Peran sebagai Istri dan kemudian menjadi Ibu. Menjalani peran tersebut memang tidaklah mudah, perlu ilmu yang mencukupi untuk menjalani peran tersebut dengan baik. Sebelum menjadi kebanggaan keluarga kita harus terlebih dahulu bangga terhadap peran kita sebagai Ibu. Kebanggaan kita menjadi Ibu inilah yang akan membuat kita menjalani peran ini dengan baik. Berikut sedikit review materi pekan kedua, untuk menjadi Ibu Kebanggaan Keluarga dibagai menjadi empat tahapan, yaitu
     1.        Bunda Sayang
Ilmu- ilmu untuk meningkatkan kualitas Ibu dalam mendidik anak sehingga menjadi guru utama dan pertama.
     2.       Bunda Cekatan
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas Ibu dalam mengelola Rumah Tangga dan Keluarga.
     3.       Bunda Produktif
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan rasa percaya diri Ibu dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik dalam hidupnya.
     4.       Bunda Sholeha
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan peran ibu sebagai agen pembawa perubahan di masyarakat sehingga keberadaannya bermanfaat bagi banyak orang.
Untuk tugas pekan ini adalah membuat checklist indikator ibu profesional terkait dengan tiga peran yaitu sebagai individu, sebagai istri dan sebagai ibu. Karena saya belum memjadi Ibu, InsyaaAllah sedang on the way maka saya akan menggunakan pengandaian kali ini. Sebenarnya tugas ini sesuatu banget, butuh waktu yang lama untuk merenungkannya. Diskusi dengan suami mengenai Istri yang baik baru kemudian bisa tertuang di catatan ini. Berikut checklist indikator yang saya buat. Setiap individu pastinya memeliki indikator yang berbeda beda. Indikator ini dibuat agar semua terukur dan dapat dipantau setiap waktu. Chek this out!
     1.       Sebagai Individu
a.       Ruhani
-          Sholat di awal waktu
-          Tilawah min ½ juz
-          Sholat sunnah
-          Puasa sunnah
-          Dzikir pagi dan sore
-          Hafalan Qur’an
b.      Fikriyah
-          Membaca buku tentang parenting
-          Membaca buku agama
-          Up date info berita
c.       Jasmani
-          Olah raga
-          Makan sayur dan buah
-          No mie instan dan MSG
    2.       Sebagai Istri
-          Mengantarkan dan menyambut kepulangan suami dengan senyum
-          Patuh dan taat pada perintah suami
-          Disiplin melaksanakan tugas kerumahtanggaan pagi dan sore
-          Menyiapkan bekal sehat untuk suami
-          Membaut laporan keuangan rutin
-          Diskusi tentang pendidikan anak
-          Sarapan dan makan malam bersama tanpa gadget

    3.       Sebagai Ibu
-          Membacakan cerita setiap menjelang tidur
-          Membuat journal perkembangan anak
-          Memuat mainan edukatif untuk merangsang perkembangan motorik
-          Menggunakan kata positif
-          Mengajarkan kata tolong, maaf, permisi, dan terima kasih sejak dini

Bandung, 30 Oktober 2016
Nice Homework 2

Berikut ini saya lampirkan checklist indikator dilengkapi dengan target dan evaluasinya perhari. Semoga apa yang saya tulis bisa menjadikan pengingat untuk menjadi individu, istri dan ibu yang semakin lebih baik. Indikator ini tidak akan ada artinya jika kita tidak berusaha untuk melaksanakannya dan mengevaluasi hasilnya. Semoga bisa istiqomah.
 









































NHW1 #Adab Menuntut Ilmu



Sebelumnya saya sudah banyak bercerita bagaimana saya bisa bergabung dengan grup yang super ini, grup Ibu Profesional.  Dalam salah satu agenda perkuliahannya adalah akan ada Nice Homework setiap minggunya. Masih berkaitan dengan materi yang pertama tentang Adab Menuntut Ilmu.
Cukup lama merenungkan jawaban apa yang kiranya sesuai dengan passion saya dalam menjawab beberapa pertanyaan dalam Nice Homework.
            Sedikit cerita, jauh sebelum menikah saya selalu mengidamkan menjadi Ibu Rumah Tangga yang senantiasa stay at home, memasak, mendidik anak-anak. Bahkan saya tidak akan rela jika suatu hari nanti keluarga saya lebih senang makan di luar daripada memakan makanan yang saya buat. Sehingga sejak kuliah saya selalu mencoba mengupgrade kemapuan saya dalam mengurus rumah tangga mulai dari jahit menjahit baju, merajut hingga urusan bersih bersih dan memasak.
            Setelah menikah pun saya masih dengan pendirian yang sama, stay at home dan bermanfaat dari rumah. Walaupun tekanan dari pihak keluarga juga luar biasa, yang menyuruh saya untuk tetap mencari pekerjaan. Namun keputusan saya sudah bulat. Saya akan memutuskan untuk menjadi Ibu Rumah Tangga yang profesional. Menurut saya semua pekerjaan akan dituntut untuk profesional, lalu kenapa Ibu Rumah Tangga tidak bisa profesional? Menurut saya menjadi Ibu Rumah Tangga justru harus seutuhnya tidak bisa setengah-setengah. Menjadi Ibu yang mengurusi semua pekerjaan rumah, mendidik anak hingga menyiapkan segala macam kebutuhan suami butuh keutuhan dalam bekerja. Dan saya sudah memutuskan untuk berusaha menjadi Ibu Rumah Tangga yang profesional.
            Jika ditanya apa alasan terkuat saya untuk menekuni bidang kerumah tanggaan.  Sesuai dengan kewajiban saya sebagai seorang Istri dan Seorang Ibu  nantinya. Saya sadar dan yakin bahwa tugas saya sebagai istri adalah melayani suami dan tugas saya sebagai seorang ibu yang akan diamanahi anak olaeh Allah adalah  mengandung, melahirkan, meyusui dan mendidiknya hingga dewasa. Saya ingin menjalankan tugas saya secara utuh dan profesional. Mulai dari urusan gizi keluarga, kesehatan, hingga pola pendidikan anak harus saya pikirkan matang. Dan saya termasuk orang yang tidak bisa berpikir bercabang jadi memang harus fokus dalam satu bidang.
            Strategi saya dalam mempelajari ilmu ini adalah senantiasa belajar setiap saat dan setiap waktu. Belajarlah dari buaian hingga liang lahat. Kita dituntut untuk senantiasa belajar, sayangnya ilmu untuk menjadi Ibu Profesioanal tidak kita dapatkan di bangku kuliah. Justru kita balajar dari banyak sumber baik dari buku, orang yang sudah berpengalaman di bidang parenting. Salah satu usaha saya adalah mengikuti Matrikulasi Institut Ibu Profesional ini, saya sadar jika untuk menjadi Ibu yang baik butuh ilmu sebelum beramal. Apalagi jika melihat tantangan membesarkan anak di era masa depan perlu ilmu untuk menjadikan anak-anak kita senantiasa bermanfaat bagi umat manusia dan tetap dalam jalur yang benar.
            Setelah mendapat materi yang MJJ (mak jleb jleb) mengenai adab menuntut ilmu. Yang mungkin selama ini saya sering mengabaikannya. Seperti diingatkan kembali mengenai pentingnya Adab menuntut Ilmu sebelum menuntut ilmu itu sendiri. Kadang saya berpikir apa jangan-jangan ilmu yang dipelajari kenapa tidak masuk-masuk padahal perasaan sudah belajar juga, mungkin bisa jadi selama ini saya sering mengabaikan abad menuntut ilmu ini. Seperti kata Tim Matrikulasi IIP adab tersebut tidak bisa diajarkan namun dapat ditularkan sehingga nantinya kitalah yang akan menularkan adab menuntut ilmu tersebut kepada anak-anak kita. Ibu adalah madarasah pertama untuk anak-anaknya. InsyaaAllah ke depannya saya akan berusaha mengamalkan adab-adab menuntut ilmu ini dengan baik sehingga anak anak saya kelak akan menjadi manusia beradab yang semakin sulit ditemui di era sekarang ini.

Bandung, 21 Oktober 2016
Feni Wijiastuti


Matrikulasi Institut Ibu Profesional Bacth 2

sumber: www.google.com/ibuprofesional

 Sudah lama sekali tidak mengunjungi dan menulis di blog pribadi saya ini, terakhir kali update pada tahun 2014 sekitar dua tahun yang lalu ketika masih aktif kuliah dulu. November 2014 saya lulus S1 dan memutuskan untuk menjadi guru di salah satu Sekolah Dasar Islam Terpadu di Yogyakarta. Selama dua tahun menjadi guru banyak sekali bekal ilmu yang saya dapatkan di sana untuk kelak dapat saya aplikasikan dalam mendidik anak-anak saya. Tahun 2016, tepatnya pada bulan Februari 2016 saya menikah dengan Rajiv Kuncoro Jati yang saat itu bekerja di PTDI Bandung. Selama Februari hingga Juli kita menjalin hubungan LDM (Long Distance Mariage), cukup membuat saya tersiksa karena belum bisa menjalankan tugas sepenuhnya sebagai istri. Setelah lebaran, tepatnya bulan Juli saya pindah ke Bandung mengikuti suami.
Setelah berganti status sebagai istri saya semakin semangat untuk belajar menjadi istri yang baik. Dan tentu saja mempersiapkan diri untuk menjadi Ibu yang baik pula bagi anak-anak kelak. Berbekal semangat dan sharing dengan teman sesama guru, teman saya menyarankan saya untuk mengikuti salah satu grup di facebook Institut Ibu Profesional yang didirikan oleh Ibu Septi Peni Wulandari. Setelah lama kepoin grup facebook dan sebenarnya ingin ikutan grup whatapps, sampai akhirnya kabar dibuka pendaftaran Matrikulasi Institut Ibu Profesional dibuka. Rasanya bersyukur sekali, sepertinya Allah memudahkan jalan untuk menuntut ilmu. Dimana ada keinginan pasti disitu ada jalan. Mudah saja Allah berikan jalan bagi siapa saja yang memang bersungguh-sungguh.  Saya ambil handphone menanyakan mengenai info tersebut kepada Contact Person di FB dan benar saja, akan dibuka kelas baru Matrikulasi Institut Ibu Profesional untuk batch 2. Mbak Wening dengan baik hati memberikan saya informasi terkait cara pendaftara dan jalannya perkuliah.
Salah satu kewajiban seorang istri adalah meminta ijin pada suami. Tidak membuang buang waktu saya segera meminta ijin suami untuk mengikuti kelas tersebut. Awalnya sudah harap-harap cemas jika belum diijinkan. Mengingat jika saya juga mengikuti kelas Bahasa Arab  (BISA) yang juga dilaksanakan secara online dengan tugas tiap minggunya. Suami meminta waktu satu hari untuk berpikir. Waduh, saya sudah deg- degan jika nanti jawaban suami tidak membolehkan ikut. Tapi Alhamdulillah, sehari setelahnya suami memberikan ijin untuk ikut.  Dan sampailah saya di Grup Matrikulasi IIP Batch 2 Bandung. Jumlah perndaftar ternyata luar biasa, hal ini membuktikan bahwa antusiasme calon Ibu Profesional sangat luar biasa. Total peserta 157, Alhamdulillah tambah teman dan juga yang jelas bisa tambah ilmu.
Matrikulasi ini seperti kuliah biasa namun dilaksanakan secara online dengan jumlah pertemuan 9 kali dengan Nice Homework setiap pekannya.  Jadi jika ditotal akan ada sekitar dua bulan perkuliahan. Di dalam kelas matrikulasi Bandung ada tiga orang fasilitator yang akan menjawab pertanyaan dari peserta. Sudah sangat tidak sabar untuk mendapatkan materi berharga sebagai bekal untuk menjadi Ibu yang baik. Bismillah semoga Allah senantiasa memudahkan jalan dalam kebaikan.

Bandung, Jum’at Mubarok











MentariPagi. Diberdayakan oleh Blogger.

Comments

Cari Blog Ini

Blogger templates

Photobucket

Advertisement

Pages - Menu